Rekam Jejak W.S Rendra

                           W.S Rendra 
                 (Sumber foto: pinterest)


Halo, Sobat Bloggers! Apa kabar? Semoga Sobat dalam keadaan sehat selalu, ya!
Sobat, mau cerita sedikit, nih. Jadi beberapa hari yang lalu aku sempat nge-search tentang W.S Rendra. Kira-kira kalian tahu, enggak, siapa itu W.S Rendra? Kalau enggak tahu, yuk kita cari tahu bersama!


Siapa itu W.S Rendra?

Dr.H.C Willibrordus Surendra Broto Rendra S.S., M.A. atau yang lebih dikenal sebagai W.S Rendra adalah penyair, dramawan, pemeran dan sutradara teater berkebangsaan Indonesia. Beliau lahir di Solo, Hindia Belanda, 7 November 1935. Pak Rendra ini merupakan anak dari pasangan R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah. Ayahnya merupakan seorang guru bahasa Indonesia dan bahasa Jawa di sekolah Katolik, Solo, di samping sebagai dramawan tradisional. Sedangkan ibunya adalah penari di Keraton Surakarta Hadiningrat. Masa kecil Pak Rendra dihabiskannya di kota kelahirannya.


W.S Rendra Sebagai Sastrawan

Sobat, tahu tidak? Ternyata bakat sastra Pak Rendra ini sudah terlihat ketika beliau duduk di bangku SMP, lho. Saat itu beliau sudah menunjukkan kemampuannya dengan menulis puisi, cerita pendek, dan drama untuk berbagai kegiatan sekolahnya. Bukan hanya menulis, ternyata beliau juga piawai di atas panggung. Beliau mementaskan beberapa dramanya dan tampil sebagai pembaca puisi yang berbakat.

Beliau pertama kali memublikasikan karyanya di media massa pada tahun 1952 melalui majalah Siasat. Setelah itu, puisi-puisinya pun menghiasi berbagai majalah pada saat itu, seperti Kisah, Basis, Konfrontasi, dan Siasat Baru. Hal itu terus berlanjut seperti terlihat dalam majalah-majalah pada dekade selanjutnya, terutama pada majalah dekade '60-an dan '70-an.

Kaki Palsu adalah drama pertama Pak Rendra, dipentaskan ketika beliau masih duduk di bangku SMP! Dan Orang-orang di Tikungan Jalan adalah drama pertama Pak Rendra yang mendapat penghargaan dan hadiah pertama dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta. Pada saat itu beliau sudah duduk di bangku SMA. Tentu saja, setelah mendapatkan penghargaan itu, Pak Rendra menjadi sangat bergairah untuk berkarya. Bahkan, Prof. A. Teeuw berpendapat di dalam bukunya, Sastra Indonesia Modern II (1989), bahwa dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern Pak Rendra tidak termasuk ke dalam salah satu angkatan atau kelompok seperti Angkatan '45, Angkatan '60-an, atau Angkatan '70-an. Dari karya-karyanya terlihat bahwa beliau mempunyai kepribadian dan kebebasan sendiri.

Karya-karya Pak Rendra tidak hanya terkenal di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Banyak karyanya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, di antaranya bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Jepang, dan India. Wow!

Beliau juga aktif mengikuti festival-festival di luar negeri, di antaranya The Rotterdam International Poetry Festival (1971 dan 1979), The Valmiki International Poetry Festival, New Delhi (1985), Berliner Horizonte Festival, Berlin (1985), The First New York Festival of the Arts (1988), Spoleto Festival, Melbourne, Vagarth World Poetry Festival, Bhopal (1989), World Poetry Festival, Kuala Lumpur (1992), dan Tokyo Festival (1995).


Bengkel Teater dan Teater Rendra


                      Bengkel Teater
                (Sumber foto: Google)

Pada tahun 1957, sepulangnya dari Amerika Serikat, beliau mendirikan Bengkel Teater yang sangat terkenal di Indonesia dan memberi suasana baru dalam kehidupan teater di tanah air. Namun, sejak tahun 1977 ia mendapat kesulitan untuk tampil di muka publik, baik untuk mempertunjukkan karya dramanya maupun membacakan puisinya. Kelompok teaternya pun tak pelak sukar bertahan. Untuk menanggulangi ekonominya, Pak Rendra hijrah ke Jakarta, lalu pindah ke Depok. Pada 1985, Pak Rendra mendirikan Bengkel Teater Rendra yang masih berdiri hingga sekarang dan menjadi basis bagi kegiatan keseniannya. Bengkel teater ini berdiri di atas lahan sekitar 3 hektare yang terdiri dari bangunan tempat tinggal Pak Rendra dan keluarga, serta bangunan untuk sanggar dan tari. Di lahan tersebut tumbuh berbagai jenis tanaman yang dirawat secara asri. Sebagian besar berupa tanaman keras dan pohon buah yang sudah ada sejak lahan tersebut dibeli, juga ditanami baru oleh Pak Rendra sendiri serta pemberian teman-temannya. Puluhan jenis pohon antara lain, jati, mahoni, eboni, bambu, turi, mangga, rambutan, jengkol, tanjung, singkong, dan lain-lain.


Kontroversi pernikahan, masuk Islam, dan Julukan Burung Merak

Baru pada usia 24 tahun, beliau menemukan cinta pertama pada diri Sunarti Suwandi. Dari wanita yang dinikahinya pada 31 Maret 1959 itu, Pak Rendra mendapat lima anak: Theodorus Setya Nugraha, Andreas Wahyu Wahyana, Daniel Seta, Samuel Musa, dan Clara Sinta. Romantisme percintaan mereka memberi inspirasi bagi Pak Rendra sehingga lahir beberapa puisi yang kemudian diterbitkan dalam satu buku Empat Kumpulan Sajak.

           W.S Rendra dan Sunarti Suwandi
         (Sumber foto: nusantaranews.co)

Pada tahun 1971, Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat ditemani oleh kakaknya R. A. Laksmi Prabuningrat, keduanya adalah putri darah biru Keraton Yogyakarta mengutarakan keinginannya untuk menjadi murid Rendra dan bergabung dengan Bengkel Teater. Tak lama kemudian Pak Rendra melamar Bu Sito untuk menjadi istri kedua, dan Bu Sito menerimanya. Peristiwa itu, tak pelak lagi, mengundang berbagai komentar sinis seperti mengenai masuknya Pak Rendra menjadi Islam hanya untuk poligami. Tapi alasan yang lebih prinsipil bagi Pak Rendra, karena Islam bisa menjawab persoalan pokok yang terus menghantuinya selama ini, yakni kemerdekaan individual sepenuhnya. "Saya bisa langsung beribadah kepada Allah tanpa memerlukan pertolongan orang lain. Sehingga saya merasa hak individu saya dihargai," katanya sambil mengutip ayat Al-Qur'an, yang menyatakan bahwa Allah lebih dekat dari urat leher seseorang. Dari Bu Sitoresmi, beliau mendapatkan empat anak: Yonas Salya, Sarah Drupadi, Naomi Srikandi, dan Rachel Saraswati.

        Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat
             (Sumber foto: Tempo.co)

Sang Burung Merak kembali mengibaskan keindahan sayapnya dengan mempersunting Ken Zuraida, istri ke-3 yang memberinya dua anak, yaitu Isaias Sadewa dan Maryam Supraba. Tetapi pernikahan itu harus dibayar mahal karena tak lama sesudah kelahiran Maryam, Pak Rendra diceraikan Bu Sitoresmi pada 1979, dan Bu Sunarti pada tahun 1981.

                         Ken Zuraida
              (Sumber Foto: Genpi.co)

Omong-omong, Sobat. Kalian pasti bertanya-tanya, "Kenapa Pak Rendra dipanggil, 'Burung Merak'?" Nah ... dilansir dari laman ensiklopedia.kemdikbud.go.id, Pak Rendra mendapat julukan sebagai "Si Burung Merak" karena penampilannya sebagai deklamator selalu penuh pesona, selayaknya burung Merak.

Kematian W.S Rendra

Sobat, jika kamu bertanya-tanya, "Apakah Pak Rendra masih hidup?" Sayang sekali, Pak Rendra telah meninggal pada hari Kamis, 6 Agustus 2009 pukul 22.10 WIB. Pak Rendra meninggal dikarenakan penyakit jantung koroner yang beliau alami.
Mari kita mendoakan agar beliau bisa beristirahat dengan tenang.


Daftar Karya W.S Rendra

Sobat, W.S Rendra mungkin telah tiada, tetapi karya-karyanya senantiasa dikenang dalam jiwa.

Berikut ini karya-karya W.S Rendra dilansir dari laman Wikipedia:

Drama

  • Orang-orang di Tikungan Jalan (1954)
  • Bib Bob Rambate Rate Rata (Teater Mini Kata) - 1967
  • SEKDA (1977)
  • Selamatan Anak Cucu Sulaiman (dimainkan 6 kali)
  • Mastodon dan Burung Kondor (1972)
  • Hamlet (terjemahan dari karya William Shakespeare dengan judul yang sama)- dimainkan dua kali
  • Macbeth (terjemahan dari karya William Shakespeare, dengan judul yang sama)
  • Oedipus Sang Raja (terjemahan dari karya Sophokles, aslinya berjudul "Oedipus Rex")
  • Lysistrata (terjemahan)
  • Odipus di Kolonus (Odipus Mangkat) (terjemahan dari karya Sophokles,
  • Antigone (terjemahan dari karya Sophokles,
  • Kasidah Barzanji (dimainkan 2 kali)
  • Lingkaran Kapur Putih
  • Panembahan Reso (1986)
  • Kisah Perjuangan Suku Naga (dimainkan 2 kali)
  • Shalawat Barzanji
  • Sobrat

Kumpulan sajak/puisi

  • Ballada Orang-orang Tercinta (Kumpulan sajak)
  • Blues untuk Bonnie
  • Empat Kumpulan Sajak
  • Sajak-sajak Sepatu Tua
  • Mencari Bapak
  • Perjalanan Bu Aminah
  • Nyanyian Orang Urakan
  • Pamphleten van een Dichter
  • Potret Pembangunan Dalam Puisi
  • Disebabkan oleh Angin
  • Orang Orang Rangkasbitung
  • Rendra: Ballads and Blues Poem
  • State of Emergency
  • Do'a untuk Anak-Cucu
  • Perempuan yang Tergusur
  • Sajak Sebatang Lisong


Daftar Pustaka:

Wikipedia.com
Pinterest
Google.com
ensiklopedia.kemdikbud.id
https://news.detik.com
https://www.merdeka.com
nusantaranews.co
Tempo.co
Genpi.co


Penutup

Sobat, itulah tadi biografi tentang W.S Rendra. Semoga informasi ini bermanfaat, ya! Sampai bertemu di lain waktu! Bye!


Hidup dalam khayalan, hidup dalam kenyataan tak ada bedanya. Karena khayalan dinyatakan, dan kenyataan dikhayalkan---W.S Rendra.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Abal-abal Lagi

Lagi-lagi Puisi Abal-abal